Jumat, 11 September 2009

Jangan jadikan seks sebagai,'alat tukar' kebahagiaan jiwa

terbit di Suara Pembaruan edisi 6 September 2009
http://www.suarapembaruan.com/News/2009/09/06/Psikolog/psi02.htm




Banyak orang tidak memanfaatkan energi seks untuk hidup lebih sehat secara lahir batin, bahkan beberapa orang menyalah-gunakan kegiatan seks ini, sehingga jadi bumerang yang merugikan kesehatan psikis dan fisiknya sendiri.

Pasangan suami istri Mantak & Maneewan Chia serta Douglas & Rachel Abrams, M.D. menulis buku bersama tentang "The Multipel Orgasmic Couple" dalam buku tersebut, bagaimana mereka menjelaskan, ambilah dan raihlah kesehatan melalui kegiatan melakukan hubungan seks.


Sangat disayangkan jika seseorang, melakukan hubungan seks hanya untuk mengumbar nafsu dan egonya, untuk memelihatkan siapa yang berkuasa.! Sangat penting untuk diingat, Jangan jadikan seks sebagai 'alat tukar'. Banyak orang memberikan seks hanya karena ingin dicintai, mereka menukar kegiatan seks dengan kebahagiaan jiwanya, tidak sedikit orang yang akhirnya kecewa, karena kebahagiaan jiwa tidak bisa ditukar dengan memberikan layanan seks.



Hubungan intim, merupakan expresi cintakasih yang dalam, bukan hanya cinta gombal.! saya berpendapat "Sex dan Cinta adalah dua hal yang berbeda, kedua hal ini bisa bersatu menjadi hal yang sakral, jika merupakan pemahaman menyatunya batin dua orang, jika hanya seorang saja yang berharap mendapatkan cinta dengan memberikan seks, maka pihak lain akan mendapatkan seks nya, tetapi belum tentu mau memberi cintanya dengan tulus.!"





Pemeliharaan lebih penting


Karena kesibukan, seringkali kita melupakan pentingnya kebersamaan ditempat tidur. Jangan jadikan tempat tidur hanya untuk aktivitas seks, coba juga berlama-lama bersama dalam kondisi mata terbuka. Walaupun tidak bisa tiap hari kita, melakukan kebersamaan tersebut, karena sering kali mungkin jadwal ekgiatan kita berbeda, atau sering bertugas keluar kota, Tetapi kwalitas pertemuan sebaiknya tetap yang diutamakan. Apalagi dalam kondisi fisik sudah tidak muda lagi.


Kita sering dibuat heran, melihat pasangan yang tiap hari bertemu tapi untuk bertengkar, bukan mengisi hidup dengan keintiman dan kemesraan, pasangan seperti ini tidak memanfaatkan kebersamaan untuk saling memberi kasihsayang dan perhatian. kebersamaan kita dibatasi oleh umur masing-masing, dan jika kita sadar bahwa usia kebersamaan ini tidaklah terlalu lama, sebab angka kematian saat ini jarang sekali yang mencapai seratus tahun. disitulah kita harus memanfaatkan waktu yang ada untuk selalu menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan, agar jiwa kita sehat, dan fisikpun ikut sehat.


Dalam literatur kesehatan China, organ Rahim diumpamakan 'istana energi' , kesehatan dan kecantikan seorang perempuan akan tercermin dari kesehatan energi rahimnnya, dan rahim ini sangat berkaitan dengan perasaaan, disinilah pentingnnya seorang perempuan memelihara perasaan bahagia ketika melakukan hubungan intim, jika kegiatan ini dipaksakan akan berubah menjadi energi strees dan membeku menjadi sikap pesimistis, kurang percaya pada cinta pasangannya.


Para peneliti di University of Pittsburgh mengkaji angka rata-rata kematian dan kondisi kesehatan kronis, di kalangan pasien dalam studi "Women’s Health Initiative", yang telah mengikuti perkembangan lebih dari 100.000 perempuan yang berusia 50 tahun ke atas sejak 1994. "Pertanyaan ini membuktikan rasa tak percaya kepada orang lain (pasangan).


Tindle seorang peneliti yang menyajikan studinya, dalam pertemuan tahunan American Psychosomatic Society di Chicago. menerangkan, pola berpikir semacam itu merenggut 'korban" karena lebih banyak menciptakan penyakit-penyakit kronis pada seseorang, dimana seseorang tidak memercayai psangannya, dalam hal ini lebih terarah pada kasus penghianatan cinta, misalnya pasangannya dicuriagai memadu kasih dengan orang lain dan sebagainya.


Dalam ajaran Seks TAO seorang wanita harus bisa menghormoniskan energi rahimnya, dan seorang lelaki harus juga melakukan hal yang sama, sebelum dan setelah melakukan hubungan intim, agar energi ditubuh tidak berkurang, apalagi sampai terjadi kekacauan yang membuat banyak wanita menderita keluhan-keluhan mulai dari badan yang selalu pegal-pegal sampai keputihan dan kekacauan jadwal menstruasi, sering menderita sakit kepala / (migren, kelelahan dan frustasi, itu pertanda aliran energi seksual tidak harmonis.


Yang dimaksud mengharmoniskan energi, adalah 'pemanasan' dimana pasangan tersebut telah melakukan pendekatan jiwa, berupa kemesraan, dan keintiman yang dibangun jauh sebelum melakukan hubungan seks itu sendiri. energi batin pasangan dibangun untuk menciptakan letupan rasa sayang, rasa dibutuhkan, rasa dihargai, dan rasa dirindukan satu dengan lainnya.





Kepuasan seksual bukanlah hadiah

Perempuan mampu mencapai orgasme sebanyak yang dia mau, itu bedanya dengan lelaki yang keadaanya lebih banyak tergantung keadaan fisik, Dari faktor psikologis, laki-laki terpengaruh lebih fatal dibanding wanita dalam masalah hubungan intim. Pasalnya, laki-laki adalah 'sexually active', kalau tidak bisa ereksi maka dianggap gagal total melakukan hubugan intim, hal ini sangat mempengaruhi kepercayaan dirinya. Sebaliknya, wanita masih bisa bersenggama meski tidak berlibido dan mendapat orgasme, karena ia adalah 'sexually passive'. tapi perempuan tergantung keadaan perasaannya, makin 'enjoy' perasaannya, semakin mesra dan mampu orgasme berkali-kali.


Yang paling bermanfaat, jika bisa menyatukan ritme kejiwaan dengan perasaan bahagia, kegiatan ini mampu memberi manfaat pada kejiwaan, penelitian para ahli jiwa menyimpulkan, pasangan yang merasa senang dan mendapat kebahagiaan dari kegiatannya bercinta, membuat seseorang mampu bersikap ramah dan optimis dalam hidup.


Banyak para istri tidak pernah mengalami orgasme (kepuasan seksual). karena dikira Orgasme itu, hanya hadiah dari pasangannya.! Ternyata orgasme itu harus dipelajari dan diperjuangkan untuk mendapatkannya. Lumayan jika mendapat suami yang agresif sebagai pecumbu yang handal, bagaimana jika kita mendapatkan suami tipe pasif..? tentunya sebagai perempuan tidak akan mau, menerima nasib seumur hidup tidak pernah merasakan 'enak' nya berorgasme, maka berjuanglah dan nikmati manfaatnya bagi kesehatan jiwa dan raga.


Jadilah pasangan yang selalu dirindukan.!

Dapatkah Perempuan belajar dan memiliki kekuatan Orgasme? tentu saja jawabannya : YA.! Orgasme beasal dari bahasa Yunani "orgasmos", yang artinya menambah 'kematangan', gelombang besar penuh gairah, dalam bahasa sanksekerta "Urja", yang artinya makanan dan kekuatan. Manifestasi fisik, orgasme adalah sebuah kekejangan urat / otot yang membuat perasaan 'melambung', orang Prancis menyebutnya dengan 'Le petit mort'.


Kenikmatan Orgasme, memang sulit dijabarkan dengan kata-kata, karena memang harus dialami sendiri. Jadi secara kesehatan, orgasme merupakan suatu kebutuhan biologis yang dapat dirasakan dengan cara yang lembut, bukan dengan cara yang dapat membahayakan diri anda sendiri.


Bagi yang kesulitan mencapai orgasme, coba lakukan beberapa saran ini :
1) Mengenal zona sensitive badan sendiri, latihan terapi cermin itu sangat bagus, yaitu kita melihat cermin untuk mempelajari lekukan dan arena sensitive tubuh sendiri, agar bisa membimbing tangan pasangan kita untuk sampai ke arena tersebut.


2) Memelihara dan membangun fantasi. dalam buku 'Women Who Love Sex', perempuan diajarkan merekam suara berfantasi seks nya, kemudian mendengarkannya kembali untuk merangsang diri sendiri. sekarang banyak buku-buku dan DVD yang bermutu untuk semakin bahagia dalam seks.


4) Membangun pikiran erotis dan sensual tentang diri sendiri, Pro-aktive bukan hanya terima nasib, harus berjuang / berusaha bagaimana mencapai orgasme.


5) Sayangi dan terima apa adanya bentuk tubuh sendiri, maka timbul perasan Percaya Diri yang kuat, ingat kita ini perempuan, kitalah penentu dengan siapa kita mau hidup bahagia..


Orgasme perempuan muncul dengan perlakuan seks, seperti kelembutan yang dalam serta rangsangan dari pasangannya, perasaan tersanjung atas cinta yang diberikan, membuang kesan negatif lain mengenai seks. Cara lain untuk lebih merasakan orgasme, perempuan harus belajar banyak mengenai perilaku pasangannya sebelum mereka berhubungan intim.


Kita sering kali terjebak rasa malas untuk melakukannya hubungan intim, alasan tidak 'mood' dan kecapaian, sering dijadikan alasan utama, padahal untuk bercinta dengan orang yang kita cintai, rasa lelah itu bukan masalah. Aktivitas seks, adalah masa relaksasi jiwaraga yang sangat ampuh.! setelah selesai melakukannya, badan rasanya segar karena otot-otot menjadi lentur lagi, pikiran kembali jernih siap kerja lagi.


Kebosanan dan rasa malas melayani pasangan untuk berhubungan intim, akan menimbulkan perasaan 'ditolak' yang sangat dalam membekas, jika hal ini terus menerus dibiarkan, akhirnya batin menjauh dan malas melakukan kebersamaan, inilah celah, untuk berpaling pada orang lain.! apalagi godaan ada depan mata, ketika hal ini terjadi, banyak Rumah Tangga hancur.


Sebagai pasangan, tidak usah muluk-muluk bercita-cita menjadi pecinta paling hebat di dunia, tapi cukup menjadi pecinta terhebat versi pasangan kita. Selamat berbahagia untuk melakukan hubungan intim yang penuh tanggung jawab kejiwaan, dan rasakan manfaatnya untuk kesehatan jiwaraga kita.


salam bahagia untuk semua pasangan,
L.H

Rabu, 26 Agustus 2009

Ketulusan

Ketulusan, sebuah aktivitas jiwa yang tidak bisa dipaksakan

terbit di Suara Pembaruan 23 Agustus 2009

http://www.suarapembaruan.com/News/2009/08/23/Psikolog/psi02.htm



“Tak ada Cinta yang mampu menyakiti hati. Tak ada rasa sayang yang mampu melukai jiwa. Ketika ia lahir dan tumbuh di atas sebuah ketulusan" (Taufan. H )


Perbuatan 'Memberi' tidak selalu berarti 'mengurangi', Kebahagiaan yang sebenarnya adalah saat kita membagi kebahagiaan itu sendiri pada orang lain, percayalah kebahagiaan itu muncul pada jiwa, ketika kita membaginya dengan tulus.! ada hal yang tidak bsia dijelaskan, dan ada hal yang tidak bisa dilihat dengan mata fisik, yaitu ketulusan dalam memberi, dan Ketulusan adalah ativitas jiwa yang tidak bisa dipaksakan oleh orang lain, juga oleh diri sendiri.


Sebuah ketulusan murni keluar sebagai aktivitas dari jiwa seseorang, tidak mungkin orang yang tidak tulus dalam berbuat, bisa merasakan sebuah ketulusan dalam perbuatannya dan berbuat seolah-olah, dia tulus dalam berbuat.! jiwa kita tidak akan mampu berbohong. Kita sendiri merasakan apakah kita tulus atau tidak dalam memberi atau berbuat.? Yang paling banyak terjadi kita membohongi diri sendiri dalam hal ini, kita memberi pengertian pada jiwa kita bahwa kita tulus, tapi pikiran kita terus berkata 'saya tidak rela' inilah konflik jiwa yang rumit dan meminta tanggung jawab terus menerus, kenapa kita tidak tulus dalam memberi atau berbuat, tetapi kenapa kita berbuat atau memberi..? ini pertanyaaan jiwa kita yang terus berkumandang dalam sanubari.


Zaman sekarang banyak orang menghitung perbuatan jiwanya dengan Rupiah, Dollar atau Euro, seakan ketulusan jiwa hanya dihitung berdasar untung rugi.! seolah warna hidup hanya hitam dan putih, padahal warna hidup ada yang lain, selain hitam dan putih, dan warna lain itulah kebahagiaan kita dalam berbuat, yaitu ketulusan.! Sebagai conoh jika kita tulus mencintai seseorang, pada saat orang tersebut berubah tidak lagi 'baik' pada kita, maka ketulusan dalam mencintai mampu meredam rasa marah, mampu memaklumi kenapa dia berubah. Tidak mungkin dalam mencintai seseorang kita berhitung untung rugi, jika tidak ada ketulusan didalamnya, orang yang menghitung 'untung rugi' dalam mencintai seseorang, maka hidupnya hanya berkutat dengan perasaan 'hukum dagang' ada perbuatan ada imbalan.! tidak ada imbalan, maka tidak ada perbuatan.


Sebuah perenungan yang dalam terkandung dalam kalimat Taufan ini, “Dengan sebuah ketulusan, rasakan kepedihan sebagai kepedihan, kesunyian sebagai kesunyian. Maka, kebahagiaan akan terasa sebagai kebahagiaan. (Taufan.H)


Kebahagiaan dalam ketulusan

Kita merasa bahagia, ketika melihat teman seperjalanan yang tidak kita kenal, dia tersenyum bahagia, ketika kita menawarkan berbagi tempat duduk di bis yang penuh sesak, kita akan merasakan bahagia yang luar biasa ketika melihat orang yang begitu terburu-buru, tersenyum berterima kasih kalla kita berikan antrian untuknya terlebih dulu melewati diri kita sendiri. Jika ada ketulusan memberi, maka jiwa kita tidak merasa dirugikan.


Coba kita ingat lagi, kenapa kita memejamkan mata ketika kita berciuman, dan kenapa kita memejamkan mata ketika kita tidur, dan kita juga akan memejamkan mata ketika diminta membayangkan sesuatu.! karena semua hal yang membuat jiwa kita terpanggil akan melihat dengan mata hati bukan mata fisik, keindahan jiwa seseorang tidak terlihat hanya memandang fisiknya saja, mulut boleh berkata 'baik' tapi hati..?, bibir boleh tersenyum, tapi jiwa menangis..!. Penampilan fisik sering mengelabui jiwa kita sendiri, jujur pada jiwa kita adalah hal yang tersulit dilakukan, melebihi jujur pada orang lain.


Di dunia ini semua tercipta secara berpasangan, ada siang ada malam dan ada mahluk perempuan yang digambarkan dengan feminitas dan juga ada lelaki yang digambarkan dengan maskulinitas, Ada keseimbangan antara feminitas dan maskulinitas. Ciri feminitas adalah misteri, cinta, tanggungjawab, pertumbuhan, universalitas, kesetaraan. Sedangkan ciri maskulin adalah tatanan, hirarki, kelas, hukum, aturan, kebenaran[i]. Keduanya bertemu untuk menghasilkan keseimbangan.

Yang membedakan antara manusia dengan binatang adalah sikap 'berpengharapan', manusia dilengkapi sikap berharap perubahan atas jalan hidupnya. sedangkan binatang tidak dibekali pengharapan, binatang hanya menjalani jalan hidupnya. mereka pasrah dengan semua yang mereka temui dan dapatkan dalam hidup ini. sebagai contoh tidak ada anjing peliharaan mampu membuat perubahan atas nasib hidupnya, dia hanya menerima dan menerima tanpa mempu membuat perubahan itu sendiri untuk hidupnya.

Baik untuk kita ambil contoh kehidupan dalam koloni semut, binatang kecil ini, contoh sempurna suatu hidup berkelompok dengan ketulusan. Semut mampu membuat jembatan dari diri mereka, untuk semut lain agar bisa berjalan diatasnya, mengangkut makanan kegudang mereka. Semut tidak ribut-ribut, beraksi untuk menunjuk siapa yang harus jadi jembatan, atau siapa yang berjalan diatas menginjak mereka yang jadi jembatan. Bagi kelompok semut, bekerja dengan tujuan, motivasinya adalah memenuhi gudang makanan mereka, sebagai persediaan untuk keberlangsungan kehidupan kelompok. Mereka mengutamakan ‘mendahulukan' untuk 'memberi’ untuk kepentingan bersama dalam hidup ini.

Perbedaan dalam berelasi dan interaksi hidup antara binatang (contohnya semut ) dengan manusia yaitu, dimana manusia dipenuhi sikap arogansi, banyak yang merasa diri lebih terhormat, lebih pandai, lebih baik, lebih suci, maka orang-orang yang punya sikap merasa diri ‘lebih’ dari orang kebanyakan, selalu minta lebih diperhatikan, minta lebih dihormati dan butuh dispensasi untuk segala kepentingannya. Hal ini pun bisa terjadi dalam rumah tangga, dimana sang suami atau isteri bersikap demikian (merasa diri ‘lebih’) maka terlontar sikap, "karena aku ‘lebih’ dari kamu, maka seharusnya kamu berbuat ini atau itu terhadapku".

Hidup dengan orang yang selalu merasa dirinya 'lebih' tentu akan selalu mengurangi yang kita punya, pastikan diri anda untuk tetap percaya diri, jangan terlena apalagi tenggelam dalam cemoohannya yag merasa dirinya 'lebih', karena 'lebih' bukan saja dalam pengakuan postif, tapi ada 'negatif' yaitu 'lebih tidak tahu diri', 'lebih tidak bisa mnegukur diri'. Selamat melakukan apapun dengan tulus, karena kebahagiaan tidak bisa dibeli. "Abaikan yang tidak berguna, fokus pada yang berguna saja, agar hidup tidak terkuras untuk sesuatu yang sia-sia" (Ermalen Dewita)

Salam tulus dari untuk semua pembaca,

L.H




Jumat, 07 Agustus 2009

Daya Kreatif jiwa tak terbatas

Daya Kreatif Jiwa Tak Terbatas

Penulis: Lianny Hendranata
diterbitkan Suara Pembaruan edisi 28 Juni 2009
http://www.suarapembaruan.com/News/2009/06/28/Psikolog/psi02.htm



Kelahiran dan kematian merupakan titik pemisah yang membedakan satu masa kehidupan. Seandainya kita mengumpamakan hidup ini seperti seorang pilot yang sedang mengemudikan pesawatnya, ketika cuaca dalam keadaan baik-baik saja, kita mungkin bisa santai dan menyetel program autopilot, sehingga pesawat akan terbang dengan aman dan terprogram.

Tetapi, apa yang terjadi jika tiba-tiba kita dihadapkan pada cuaca buruk? Mungkin sebagai pilot, kita akan langsung memegang kendali kemudi dan berusaha mengontak menara pengawas, meminta bantuan untuk mengendalikan serta mengikuti panduan dari menara pengawas tersebut untuk bisa mendarat dengan selamat.


Pernahkah Anda melihat atau mendengar berita, sebuah pohon besar yang berdiri kuat dan kokoh dengan akar-akarnya yang menancap kuat dalam tanah, tetapi tidak bisa menahan dalam terpaan angin badai, sehingga tumbang sampai akarnya tercerabut ke atas tanah. Mengapa bisa terjadi demikian? Sebab, dengan kekokohannya berdiri, dia tidak mampu mengikuti gerak angin badai dan akhirnya harus menerima kekalahan, adu kuat dalam fenomena alam yang terjadi.


Bagaimana dengan rumput di sekitar pohon 'kuat' tersebut? Ternyata, mereka mampu bertahan dan tetap berdiri dengan akar dalam tanah! Mereka bisa bertahan dengan tangkainya yang lemah gemulai sehingga mampu mengikuti gerak angin dan berhasil hidup pada musim badai yang keras.


Demikian juga hidup! Ketika kita mengeraskan hati dan berdiri tegak dengan ego yang kuat, maka ketika musim badai menerpa, tumbanglah kita! Hidup ternyata harus mampu dilalui dengan keluwesan, yaitu sikap mampu beradaptasi dengan keadaan dan hal ini bukan diartikan kelemahan atau kepasrahan.


Perubahan Selalu Berjalan

Tiap hari adalah hari yang baru, dan tiap menit pun adalah menit yang baru pula yang akan membawa peluang baru bagi kehidupan. Jika tidak mau memperbaharui diri, kita akan terhenti dan 'macet' menjadikan mental serta fisik kita usang.


Perubahan terjadi setiap saat dalam perjumpaan dengan orang lain atau dalam setiap pikiran tentang diri sendiri, kita memiliki suatu pilihan. Entah untuk menghakimi atau coba untuk mengerti terhadap apa yang sedang dihadapi, yang harus dijalani, dan yang akan direncanakan, serta apa yang harus diubah?


Bayangkan, bagaimana jadinya jika kulit tidak memperbaharui diri?. Terutama kulit wajah, pasti akan terlihat kusam dan kering. Akibat itulah, maka para ahli kulit dan produsen kosmetik memproduksi scrub (pembersih kulit dengan butiran-butiran halus untuk mengangkat kulit yang sudah mati) dan berharap memperoleh kulit yang baru dan halus, maka kita harus membuang lapisan kulit mati, kita perlu sesuatu yaitu butiran scrub yang biasanya terasa kasar dikulit, begitu juga dalam kehidupan, ada kalanya kita merasakan butiran-butiran kasar, yang harus kita rasakan untuk mendapatkan suatu perbaikan menuju hidup lebih damai sejahtera.


Contoh lain adalah jika kita berdiam didalam ruangan yang tertutup dan tidak ada pergantian udara, bisa dipastikan akan terasa pengap dan menjemukan, karena kita menghirup udara basi. Master Hua Ching Ni dalam bukunya The Power Natural Healing mengungkapkan,"Penyembuhan merupakan pembaruan emosional dan fisik, bahkan termasuk di dalamnya membuka jendela untuk memperoleh udara yang segar". Jendela yang dimaksud, kita bersedia membuka diri, memberi kesempatan untuk menambah wawasan dan pengetahuan baru, termasuk memberi kesempatan pada kenalan baru untuk membuat rencana baru.


Kita hidup di dunia fana, di mana segala sesuatu tidak ada yang abadi, kita pun tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita selanjutnya, seperti orang bijak berkata bahwa dunia ini selalu berputar, sebentar kita ada di atas, selanjutnya kita ada di bawah. Jangan sombong pada waktu kita berada di atas, Jangan putus asa pada waktu kita berada di bawah.


Saya dapat satu perumpamaan yang bagus saat mendengar sebuah bincang-bincang dari Bapak I Gede Prama demikian bunyinya: 'Sesuatu mengolok-olok batang seruling dengan mengatakan': "Wah sekarang Anda sudah menjadi barang berharga yang disimpan orang di tempat yang mulia, padahal tadinya Anda hanya sebatang bambu di tepi kali".


Maka seruling menjawab: "Tahukah kamu untuk menjadi seruling yang indah dan mendapatkan tempat yang mulia, saya harus melalui jalan yang sangat menyakitkan. Karena saya harus dibersihkan, harus dihaluskan, bahkan harus dilubangi supaya saya bisa mengeluarkan melodi yang merdu harmonis".


Dari perumpamaan tersebut, kita menarik hikmahnya bahwa hidup kita pun kurang lebih sama. Banyak orang yang senang mengolok-olok sukses yang diperoleh orang lain, tanpa mau mengetahui betapa menyakitkan, juga harus ditempuh dengan kerja keras untuk berjalan di kehidupan ini, untuk sampai pada apa yang dimaksud kesuksesan tersebut.


Optimalkan Kreativitas

Seumpama badai menerpa karier kita, dalam bentuk keterbatasan pendidikan, maka daya kreativitas jiwa kita optimalkan, yang dapat menghasilkan ide-ide inovatif yang terjadi bagai rumput yang mampu beradaptasi dengan gerakan angin tersebut, dan rumput tersebut akan berdiri sebagai pemenang. Pikiran sangat besar pengaruhnya pada seseorang, jika kita mampu mengendalikannya untuk selalu berpikir positif, jalan ke arah itu yang terjadi, demikian juga sebaliknya.


Eugene Raudsepp, konsultan dari Amerika mengatakan, salah satu gangguan untuk sukses, di mana kita sering merasa 'salah waktu' untuk sukses. Sepertinya kita ragu dengan kesuksesan yang kita raih, jadi kita sendiri yang meragukan diri sendiri.


Daya kreatif jiwa tak ternilai besarnya, tinggal bagaimana kita mau mengarahkannya, apa kita akan menjadi budak keputusasaan, atau sebagai pemenang dengan sikap optimistis yang akan membawa kita ke perubahan yang positif. Tentu saja semua berpulang kepada diri kita sendiri.


Pengalaman itu mahal harganya, jangan tunggu dapat pengalaman pahit untuk merasakan kemanisan, tetapi raihlah kemanisan kesuksesan dengan kreativitas jiwa kita yang tak terbatas. Ciptakan kesempatan-kesempatan, dan raihlah peluang-peluang yang bermunculan, kita akan menikmati hari ini dengan rasa bersyukur, dan menatap hari esok dengan penuh harapan.

salam bahagia untuk semua mahluk hidup di dunia fana ini.

Kamis, 25 Juni 2009

Kiat Berhubungan yang Menghasilkan Bayi Unggul


diterbitkan KOMPAS.Com 10 januari 2008

http://www.kompas.com/read/xml/2008/01/10/1954096


Emosi atau suasana hati calon orangtua yang sedang melakukan proses pertemuan antara sel sperma dan sel telur (pembuahan), akan memengaruhi kesehatan jasmani dan rohani (EQ, IQ, SQ) anak yang akan dilahirkan kelak. Karena itu, secara tradisional hubungan intim selalu dianggap sakral.


Dalam buku "Meningkatkan & Menyehatkan Seksualitas Pria dan Wanita" penerbit Elexmedia Komputindo, Group Gramedia - Jakarta thn 2005
, Lianny Hendranata bahkan menulis, aliran-aliran spritual seperti Tantra yoga dan Tao menganggap pertemuan sel telur dan sperma bukanlah suatu peristiwa sepele.


Energi yang menentukan kualitas seorang anak dimulai dari pendekatan (masa pacaran) calon ibu dan ayah tersebut, dalam suasana apa dan cuaca yang bagaimana. Energi yang menelungkupi calon orangtua itu harus diperhatikan benar.


Aliran Tao dan Tantra yoga pun memberitahukan beberapa hal seperti :


  • Jangan bertemu untuk berpacaran di tempat yang mempunyai energi buruk seperti tempat maksiat dan tempat kesedihan umumnya seperti kuburan dan sebagainya
  • Jangan melakukan hubungan intim kala terjadi cuaca buruk, seperti angin badai, banyak petir/guntur, dan gempa bumi, juga suasana alam yang negatif lainnya.
  • Setelah selesai melakukan hubungan intim, pasangan diharuskan terus memelihara suasana bahagia di antara mereka. Hindarkan pertengkaran sekecil apa pun.
  • Setelah sang ibu diketahui mengandung, dianjurkan jangan melihat hal-hal buruk. Berusahalah untuk menghindari suasana berduka seperti melayat orang meninggal atau ke pemakaman, menonton film menegangkan seperti pembunuhan atau film perang. Jauhi suasana takut, terkejut, marah.


  • Ibu hamil harus sering melihat warna cerah dan menyenangkan, serta banyak beramal dan berdoa. Sebab, ritual-ritual yang baik seperti berdoa dan melakukan kegiatan sosial mampu merespon energi positif dari alam semesta, yang akan membantu pertumbuhan bayi yang dikandung.

Dalam buku lainnya, "Seksualitas, Tombol Ajaib Menuju kebahagiaan", penerbit Buana Ilmu Popular, Gramedia 2006 Lianny juga bertutur tentang seksualitas sebagai ajang rileksasi dan rekreasi jiwa raga pasangan. Di situ dia menekankan pentingnya untuk bersikap bahagia dan bersyukur begitu seorang calon ibu menyadari dirinya sedang mengandung.


“Kala menyadari diri sudah mengandung walaupun janin baru berusia beberapa hari, sebaiknya segera ubah pola pikir untuk selalu bahagia, bahkan jika kehamilan itu tidak direncanakan (diinginkan),” katanya.


Sikap syukur dan menerima anak yang dikandung tersebut sebagai titipan Tuhan sangat penting. Sudah banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa anak yang merasakan kedatangannya di dunia ini tidak diharapkan orangtuanya, condong tumbuh menjadi anak yang memberontak atau bermasalah.


Jadi, jangan sembarangan hamil kalau tak sanggup berbahagia dan bersyukur karenanya.


selamat mencoba, salam bahagia untuk semua,

L.H



Jumat, 19 Juni 2009

Tetap Mengasihi walaupun Banyak Alasan untuk Membenci


Tetap Mengasihi walaupun Banyak Alasan untuk Membenci

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/12/02/Psikolog/psi01.htm
ditulis : lianny Hendranata
diterbitkan Suara Pembaruan 2 Desember 2007

Dengan tubuh menggigil dan air mata mengalir deras, aku berusaha mendekatkan telingaku kemulut Aryanie sahabatku, dan terdengarlah suaranya yang lemah tapi jelas, "Jangan biarkan orang yang kamu cintai menganiaya fisik, apalagi psikismu."


Betapa aku tidak bisa mengerti kenapa sahabat yang dulu menjadi bunga desa, dan sangat pintar serta supel dalam berorganisasi, sekarang terbaring di ICU rumah sakit dengan alat bantu medis untuk mempertahankan hidupnya, dan berpesan seperti yang baru saja kudengar.


Masih jelas dalam ingatan, kala Aryanie menceritakan bagaimana dia sangat mencintai suaminya, apa pun yang dia lakukan untuk menyenangkan sang suami, bahkan dengan temperamennya yang cepat naik darah, sang suami tidak segan-segan melempar apa saja ke muka istrinya, kalau dia menilai hasil pekerjaan sang istri tak disukainya.


Tak jarang, sang suami memakinya perempuan goblok, sok suci, cengeng, tidak tahu diuntung dan masih banyak kata- kata yang selalu memojokan hati Aryanie. Namun, semua hilang tak berbekas, hati Aryanie mampu memaafkan, mampu memaklumi kelakuan sang suami tercinta.


Bahkan, dia bisa mengatakan, "Biasalah lelaki kalau lagi kumat, kita perempuan harus mengerti dan jangan pernah membuat cinta kita luntur karena perlakuannya."


Tapi, hari ini disisa akhir napasnya, Aryanie berpesan, "Jangan biarkan orang yang kamu cintai, menganiaya fisik apalagi psikismu." Ah, Aryanie, kenapa kamu begitu terlambat untuk melaksanakan pesanmu sendiri untuk dirimu sendiri. Aku pun menangis, merasakan penderitaan sahabatku ini.

Kekerasan terhadap pasangan, sudah menjadi kalimat populer, bahkan sekarang banyak aktivis yang membentuk badan yang menangani kasus-kasus demikian, undang-undang pun sudah dibuat. Kini, siapa saja yang mendapat kekerasan dari pasangannya boleh melapor dan mendapat bantuan. Sejumlah kasus memang terkuak dan mendapat penanganan serius, tetapi itu kasus yang terjadi dalam bentuk kekerasan fisik yang ada buktinya, yang bisa terlihat dan divisum.


Bagaimana dengan kasus penganiayaan psikis? Ini tidak bisa dibuktikan, bahkan penerima perlakuan ini sering tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi korban penganiayaan berat, membuat trauma yang dalam pada kejiwaannya. Banyak korban yang menjadi gila terselubung, bahkan menjadi gila dalam arti sebenarnya, sehingga harus dirawat di rumah sakit jiwa.

Tidak sedikit pula yang menjalankan sisa hidupnya menjadi penderita sakit kronis yang mengenaskan. Sebuah survei membukukan bahwa lebih dari setengah tempat tidur rumah sakit di dunia, dihuni oleh orang yang berpenyakit kronis, karena sakit batin.


Sehat Artinya Bahagia

Seorang klien penderita kanker payudara stadium akhir, mengisahkan, sudah sangat terlambat ketika dia menyadari bahwa selama ini membiarkan makian kasar orang yang dicintainya, bahkan kata-kata menyepelekan, merendahkan dirinya, dan semua yang negatif yang distempelkan pada dirinya, adalah sah dan layak dia terima.


Berpuluh tahun menerima semuanya sebagai sesuatu hal yang normal, dan membentuk dirinya menjadi orang yang benar-benar percaya bahwa dia adalah manusia yang layak disakiti, layak dicaci, layak dibuat sebagai tempat pelampiasan marah orang yang sangat dicintainya, dia tetap mengasihi walaupun banyak alasan untuk membenci.


Klien itu mengatakan, dia tidak bisa sadar bahwa dia mendapatkan penganiayan psikis yang berat, dan butuh ditolong! Dia menganggap normal karena dia menilai penganiayaan atau kekerasan hanya diakui kalau dalam bentuk pemukulan fisik.


Bayangkan lebih 15 tahun dia hidup dengan sangat hati-hati untuk berlaku, menyediakan sayur tidak boleh terlalu panas, dan duri ikan harus bersih jangan sampai tertelan orang yang dicintainya, dia begitu ketakutan kehilangan orang yang dicintainya, sampai apa pun dia lakukan untuk membuat senang orang yang dicintainya. Dia minta disayang persis seperti anak kecil yang mencoba meraih kasih sayang orangtuanya dengan membujuk dan melakukan hal-hal yang menyenangkan.


Kenapa kita menjadi sakit? Jawabannya, karena kita tidak bahagia. Dalam keadaan tidak bahagia, semua sistem tubuh kita kacau, sistem imun kita menjadi lemah, dan dengan segala faktor pengiringnya menjadikan kita sangat terpuruk.


Orang yang tidak bahagia banyak sekali bermain dengan pikirannya sendiri, tarik ulur tentang salah menyalahi terjadi dalam alam pikiran, diperparah jika ketidakberdayaan ini tidak mendapat jalan ke luar, seperti berbagi dengan orang lain, atau mampu mengungkapkan (protes) ketidakbahagiaan ini kepada orang yang menjadi penyebabnya.


Atas Nama Cinta

Walaupun banyak di antara kita yang dibutakan cinta, tapi saat menyadari bahwa pasangan Anda seorang yang melakukan kekerasan terhadap Anda, baik itu penganiayaan fisik atau psikis, apa pun alaasannya itu bukanlah cinta! Atas nama cinta, hentikan kebiasaannya menyakiti Anda, apa pun bentuknya! Atas nama cinta, hargai diri Anda sendiri.


Bukan cinta namanya bila orang yang kita cintai tega menyakiti hati dengan kata-kata pedas, atau dengan tinju dan tamparan, bahkan dengan sundutan bara api rokok. Atas nama cinta beranikanlah diri untuk meraih kebahagiaan dan cinta yang benar, yaitu saling menghargai, saling mengerti, dan saling mengasihi.


Kita harus sadar bahwa kita layak dicintai, layak dihargai, dan arti cinta adalah memberi dan menerima kebahagiaan dari orang yang dicintai. Mulailah kita menghargai diri kita sendiri, mulailah kita membangun hargai diri kita dengan mengerjakan hal-hal positif yang baik untuk diri sendiri dan lingkungan. Berhentilah jadi korban yang merasa layak dianiaya psikis dan fisik. Hanya dengan mencintai dan menghargai diri kita, maka orang akan melakukan hal yang sama pada kita.


Penyembuhan ada di tangan kita sendiri. Hilangkan ketakutan, perasaan terancam, serta kelemahan karena merasa tidak berdaya, juga merasa diri salah. Dengan demikian, kita membangun kekuatan diri dan mengobati jiwa kita sendiri untuk kuat meneruskan hidup. Pakailah semua daya kesembuhan, merasakan kasih sayang dengan diri sendiri, dengan sesama, berharmonis dengan alam dan segala bentuk rasa syukur. Buktikan bahwa kekuatan ini ada pada jiwa kita dan pakailah untuk kesehatan dan merasakan keutuhan diri.


salam bahagia untuk orang yang berani mencintai dan membela dirinya,
L.H



Senin, 15 Juni 2009

Krisis Moral, Penghambat Kesuksesan




Krisis Moral Penghambat Kesuksesan
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/05/29/Psikolog/psiko.htm




ditulis : Lianny Hendranata
diterbitkan
Suara Pembaruan edisi 29 Mei 2005



Banyak pendapat yang menyatakan bahwa yang terpenting dari seorang manusia bukanlah otak atau fisiknya. Tetapi, sikap mentalnya yang akan menjadikan dia manusia yang ada gunanya atau hanya sekadar sampah masyarakat. Dengan sikap mental positif, diharapkan bisa menjadikan seseorang mempunyai moral positif yang akan membawa angin segar yang sehat untuk dirinya sebagai manusia, serta lingkungan hidupnya.

Usia suatu negara tidak menjamin bahwa negara tersebut bisa menjadi maju dan masyarakatnya menjadi penduduk yang kaya. Contohnya India dan Mesir, mereka berusia lebih dari 2.000 tahun, toh sampai sekarang tetap menyandang predikat sebagai negara yang berkembang, dan sebagian besar penduduknya masih tergolong miskin. Sementara Singapura dan Selandia Baru, usia negaranya kurang dari 150 tahun dalam membangun diri, toh mereka saat ini menjadi negara yang sangat maju dan masyarakatnya rata-rata kaya.

Apa yang membuat negara lain bisa cepat keluar dari krisis ekonomi yang melanda negara Asia pada tahun 1998 lalu...? Seperti Thailand dan Korea, mereka juga sama dengan Indonesia, terpuruk oleh badai krisis, tetapi mereka sekarang sudah pulih dan bisa kembali berjaya. Tetapi kenapa Indonesia tetap menjadi negara yang terpuruk dengan segala krisisnya. Nah, jawabannya adalah tergantung sikap mental dan moral rakyatnya!


Kualitas Moral

Terlihat jalanan di kota-kota besar, terutama Jakarta, ada banyak pengemis yang meminta sedekah. Rata-rata mereka masih muda usia dan berbadan gemuk, serta terlihat sehat. Tapi karena sikap mentalnya, menjadikan mereka tanpa malu menjadi pengemis.


Lihat negara tetangga kita yaitu Thailand, bersih dari pengemis, bahkan kita melihat beberapa orang tua dengan usia di atas 70 tahun, masih bekerja, walaupun hanya sebagai pengumpul troli di bandara, menjadi petugas pembersih meja di rumah makan, pembersih toilet umum, dan sebagainya. Mereka memilih tetap bekerja, daripada hanya sekadar menjadi peminta sedekah.


Dalam krisis ekonomi yang lalu, banyak perusahaan yang kandas dan beralih tangan ke pemilik asing. Maka perusahaan yang masih bertahan, mau tidak mau, harus bisa mengembangkan sikap mental karyawannya. Kualitas moral seluruh pribadi yang terkait dalam perusahaan itu, mulai dari atasan sampai karyawan yang mempunyai jabatan terendah harus dibina. Dengan sikap mental positif, maka didapat karyawan yang tangguh kepribadiannya, tidak mudah dipengaruhi oleh isu-isu negatif. Tidak pula mudah marah dengan aksi-aksi protes dan melakukan tindakan-tindakan yang akan membuat perusahaan tempat sumber nafkahnya menjadi semakin sakit dan akhirnya mati di tangan karyawannya sendiri.


Saat ini tidak tertutup kemungkinan banyak karyawan berlaku, seperti benalu yang menempel pada pohon induk,. Perlahan tapi pasti, pohon induk menjadi sakit dan akhirnya mati bersama benalu itu sendiri.


Hal tersebut sangat jelas terlihat pada perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Di perusahaan milik negara ini, para karyawan diibaratkan sebagai tiang-tiang yang menjaga tetap tegaknya perusahaan berdiri. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, karyawan justru menggerogoti perusahaan itu sendiri dengan korupsi di segala bidang. Maka jangan heran sekarang banyak BUMN yang merugi dan bangkrut, sehingga terpaksa diobral dan dijual secara sepihak. Pemilik modal asing pun bertepuk riang karena mendapat perusahaan dengan aset besar dan masa depan cerah, tetapi bisa dibeli dengan harga murah.


Dengan sikap mental positif, kita berharap sekelompok orang yang berdiri di bawah bendera perusahaan atau organisasi apa pun, akan mampu menjadi manusia yang berakhlak luhur. Contoh sikap mental dan sikap moral positif adalah bagaimana para karyawan bertingkah laku dalam kesehariannya pada tempatnya bekerja.


Di beberapa perusahaan akan cepat terlihat, bagaimana sikap moral karyawan tercermin dengan kebersihan lingkungan pabrik atau kantornya. Contoh yang paling mudah dilihat adalah perusahaan peninggalan Belanda yang berdiri tahun 1890 di Bandung dengan nama Parc Vaccinogen, yang sekarang berubah nama menjadi Biofarma. Luar biasa didikan yang terus dikembangkan perusahaan tersebut dalam meningkatkan kualitas SDM-nya. Lingkungan pabriknya tertata rapi dan bersih.


Jika seseorang mempunyai sikap mental/sikap moral positif, maka ciri yang mudah dilihat adalah penampilannya. Dia bisa menghargai dirinya sendiri, dengan berpenampilan rapi, bersih, dan berpakaian sesuai dengan tempat dan arena dia berada.


Penampilan yang dimaksud bukan berarti harus necis dan up to date, tetapi tepat waktu menurut situasi dan kondisi. Lingkungan kerja bukan lagi lingkungan sekolah dengan anak-anak yang terpaksa harus patuh dengan peraturan baku, seperti rambut harus terpangkas rapi, kemeja harus dimasukkan, dasi harus dipakai sejak dari rumah, dan sebagainya.


Jika dalam lingkungan sekolah anak-anak tidak mematuhi peraturan sekolah, mereka harus mendapat hukuman. Tetapi dalam lingkungan kerja, kesadaran diri sendirilah yang menjadi parameternya, "Apakah penampilan saya sudah sesuai dengan lingkungan kerja saya?" Nah, di situlah permulaan mental/moral seseorang diolah, baru berlanjut ke bidang lain, tentang bagaimana dia mematuhi peraturan yang tertulis maupun peraturan abstrak yang mengiringi situasi.


Jika pemimpin perusahaan atau organisasi bisa menelaah keadaan lingkungan tempatnya memimpin dan jika dia bisa menomorsatukan pembinaan mental anak buahnya agar mempunyai moral positif, maka tempat kerjanya akan mempunyai lingkungan yang harmonis, berisi manusia yang mempunyai moral dan mental positif. Dengan karyawan yang mempunyai moral dan mental positif, diharapkan perusahaan yang ada sekarang bisa bertahan untuk tetap hidup dan sukses dalam segala bidang yang akan membantu pemulihan perekonomian Indonesia.


salam sukses untuk semua orang,

L.H



Kamis, 04 Juni 2009

Kebahagiaan itu dibuat, bukan dicari

Kebahagiaan itu dibuat, bukan dicari



ditulis oleh : lianny Hendranata

terbit di Suara Pembaruan edisi : 19 November 2006

http://www.suarapembaruan.com/News/2006/11/19/Psikolog/psiko.htm


Jika membicarakan kebahagiaan, tentu kita ingat juga kata cinta. Sebab kebahagiaan identik dengan keberadaan cinta. Kita harus mengetahui diri sendiri, apa yang membuat kita merasa bahagia. Sebab, kebahagiaan harus kita sendiri yang membuat, bukan kita yang mencarinya.


Pabrik kebahagiaan berada di dalam sanubari kita sendiri. Percuma Anda pergi ke ujung dunia untuk mencari kebahagiaan. Kebahagiaan tak akan Anda dapatkan di mana pun, kecuali Anda yang membuat diri sendiri untuk berbahagia di mana pun dan kapan pun.


Faktor yang paling penting untuk membuat kita tetap sehat, sejahtera, dan bahagia, adalah mencintai dan merasa dicintai.


Bersikaplah realitis dan rencanakan sejumlah mukjizat untuk diri sendiri dan merasakan kebahagiaan itu datang dan terjadi pada kita, sebab cinta itu perlu keutuhan tubuh, pikiran, dan jiwa.


Cinta seperti segala sesuatu lainnya adalah sebuah pilihan.

Pada setiap saat dalam perjumpaan dengan orang lain, atau dalam setiap pikiran tentang diri kita sendiri, kita memiliki suatu pilihan: entah untuk menghakimi atau coba untuk mengerti terhadap apa yang sedang dihadapi, yang harus dijalani, dan yang akan direncanakan.


Energi Cinta

Cinta adalah energi. Rasakan energi itu mengalir ke dalam bagian tubuh kita, maka kita merasakan satu kehangatan, kedamaian, dan kebahagiaan, memasuki tubuh dan sanubari.

Dan energi cinta itu tidak harus selalu kita dapatkan dari luar. Justru yang paling manjur adalah cinta yang dihasilkan dari diri kita sendiri.


Dengan mencintai dan jujur pada diri kita sendiri tentang arti cinta, maka kita tidak akan menyia- nyiakan cinta yang sudah ada dan bertumbuh dalam diri kita. Itulah awal pabrik kebahagiaan berproduksi dalam hati.


Sering terjadi pada banyak pasangan yang menyia-nyiakan perasaan cinta, yang tadinya menjadi suatu awal untuk keputusan hidup bersama. Kita sering lengah untuk memelihara cinta tersebut.


Cinta yang dalam adalah dalam bentuk kasih sayang yang bisa kita ibaratkan seperti sebuah otot dalam tubuh kita, semakin dilatih dan dipelihara, maka akan jadi semakin kuat dan semakin bermanfaat untuk melancarkan gerakan dalam hidup.


Pada saat cinta mulai memudar dan perlahan tapi pasti. kasih sayang terhadap pasangan mulai menghilang, maka kita baru sadar bahwa selama ini kita tidak menghargai keberadan cinta pasangan kita.


Di saat kita memiliki penuh, justru kita sia-siakan! Tetapi, di saat kita mulai merasa terancam kehilangan, kita berusaha mati-matian untuk mendapatkan pengakuan bahwa dia harus tetap menjadi milik kita!


Sayangnya, dalam berjuang mempertahankan atau mencoba mengembalikan cinta pasangan, yang banyak terjadi adalah kita tidak kembali merebut cinta dengan cinta. Kita salah langkah, salah bertindak, juga salah mengadaptasikan kembali cinta itu pada keharmonisan hubungan.


Maka, yang terjadi adalah cinta semakin jauh untuk dikembalikan, semakin jauh untuk diraih, karena kita membuat hubungan menjadi semakin membara dengan argumentasi yang mau menang sendiri, dengan amarah yang panas dan membuat cinta menjadi hanya legenda yang pernah ada dalam hubungan sebagai pasangan. Cinta musnah dibakar api amarah dan cemburu.


Mudah Sirna

Kenapa cinta yang membawa kebahagiaan pada pasangan menjadi begitu mudah sirna? Cinta yang demikian cepat pudar dan akhirnya lenyap dimakan waktu, antara lain adalah cinta yang diawali kata “karena” atau kata “kalau”.


Cinta bisa abadi dan penuh toleransi jika sudah melebur dan berubah menjadi cinta dimulai dengan kata “walau” atau “walaupun”.


Contoh cinta yang diawali kata “karena” adalah “Karena kamu cantik, maka aku mencintaimu! ” Kemudian, “Karena kamu seorang direktur, maka saya mencintaimu! ”


Lalu, contoh cinta yang diawali kata “kalau” adalah “Kalau kamu cinta saya, maka kamu seharusnya memenuhi kebutuhan saya!”
atau “Kalau kamu cinta saya, maka kamu selalu memperhatikan saya!”


Nah, bandingkan bunyi kalimat cinta yang diawali kata “walau”.


“Walaupun hidup kita kekurangan, tetapi saya tetap mencintaimu! ”
Begitu juga dengan, “Walau kamu sekarang di-PHK, saya tetap mencintaimu! ” atau “Walau sekarang kulitmu sudah keriput, aku tetap mencintaimu! ”


Banyaknya pasangan yang membekali diri untuk hidup bersama dengan cinta berawalan “karena” dan “kalau”, maka keluhan yang paling sering terdengar dalam ruang konsultasi adalah “serumah, tapi terasa asing” dan “setempat tidur, tapi tidak tertarik lagi”.


Cinta “karena” dan cinta “kalau” mudah pudar dan luntur. Berbeda dengan cinta “walau” yang penuh toleransi, penuh pengertian, bahkan penuh maaf atas apa yang terjadi pada pasangan kita.


Kita mampu berkata, “Walau kamu menyakiti saya, tetapi saya tetap menyayangimu. ”


Pilihan ada pada diri kita sendiri, mau berbahagia ya berusahalah dan berjuanglah dalam membuat kebahagiaan itu di sanubari kita.


Sebab, kebahagiaan itu merupakan energi yang menular. Kita tidak bisa membuat orang di lingkungan kita berbahagia, tanpa diri kita sendiri bahagia.


Bagaimana kita mau membuat orang di sekitar tersenyum, jika kita sendiri tidak mampu tersenyum karena hati penuh energi busuk yang dihasilkan dari amarah, rasa benci, jengkel dan merasa dipermainkan, dan sebagainya?


salam bahagia untuk semua mahkluk didunia ini,

L.H